"Satu Juta Pertanyaan, Nol Jawaban"
Kebanyakan remaja saat ini
seringkali merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari lingkungan sekitar,
entah itu keluarga, sekolah, bahkan masyarakat. Sesering itu juga mereka
mengeluh bahwa mereka merasa bingung dan tertekan karena banyaknya pertanyaan
mengenai masa depan, track record karir, atau harapan-harapan yang harus
dipenuhi. Dalam eksistensi manusia, remaja—dikenal sebagai sebuah fase kritis. Karena
kehidupannya selalu dipenuhi dengan konflik dan kontradiksi, apalagi ketika
mereka sedang merasa “teraniaya” oleh ekspektasi yang terlalu tinggi, membuat
beban pikiran mereka melimpah, bingung, merasa kosong karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan
yang tak terjawab mengenai masa depan. Walau tidak semua, namun saya yakin
kebanyakan mereka merasakannya, termasuk kamu mungkin. Ya kan?
Tapi memang kita perlu mengakui bahwa kehidupan manusia pada dasarnya penuh dengan ketidakpastian dan kompleksitas. Ada salah satu konsep filsafat yang kita kenal dengan nama “absurditas”. Yang menggambarkan paradoks hidup di mana manusia terus mencari arti dan tujuan, namun seringkali terjebak dalam dunia yang tidak berarti secara inheren. Dalam proses mencari tujuannya, ada setidaknya dua pertanyaan yang mencerminkan kerumitan hakiki dari keberadaan manusia,
“Siapa aku sebenarnya?”
atau “Apa tujuan hidupku?”
Melihat keluhan para adolescence
ini, yang selalu dihajar dengan pemenuhan ekspektasi, dan tak jarang mereka
merasa akan hidupnya yang nirmakna, ada perspektif lain yang mungkin,
membuatnya lebih bermakna, di mana proses “menemukan” dan “mencari” jawaban, meskipun tidak
selalu mudah, adalah suatu bentuk pembaruan diri. Bertanya merupakan tanda
kesadaran dan refleksi yang vital dalam proses menuju pemahaman yang lebih
dalam. Remaja, dengan sejuta pertanyaannya, menunjukkan keberanian mereka untuk
berbicara dengan hati mereka sendiri dan menantang status quo loh. He he he.
Selain itu juga, penting bagi
remaja untuk merangkul ketidakpastian. Mereka harus menyadari bahwa kebingungan
dan tekanan yang mereka rasakan adalah bagian alami dari kondisi manusia. Daripada
mencari jawaban pasti, baiknya mereka belajar untuk merangkul ketidakpastian
dan menjadikannya sebagai sumber pertumbuhan dan pemenuhan diri. Seringkali
dalam prosesnya, mereka tidak dapat menemukan jawaban yang dicari, karena
memang setiap individu memiliki perjalanan unik dan kompleks. Kita juga harus
belajar bahwa pemahaman dan pengetahuan dibentuk (didapat) melalui interaksi
aktif dengan dunia sekitar.

Komentar
Posting Komentar