"Satu Juta Pertanyaan, Nol Jawaban"

Oleh : Hafizh Malik Hakim



Kebanyakan remaja saat ini seringkali merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari lingkungan sekitar, entah itu keluarga, sekolah, bahkan masyarakat. Sesering itu juga mereka mengeluh bahwa mereka merasa bingung dan tertekan karena banyaknya pertanyaan mengenai masa depan, track record karir, atau harapan-harapan yang harus dipenuhi. Dalam eksistensi manusia, remaja—dikenal sebagai sebuah fase kritis. Karena kehidupannya selalu dipenuhi dengan konflik dan kontradiksi, apalagi ketika mereka sedang merasa “teraniaya” oleh ekspektasi yang terlalu tinggi, membuat beban pikiran mereka melimpah, bingung, merasa kosong karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab mengenai masa depan. Walau tidak semua, namun saya yakin kebanyakan mereka merasakannya, termasuk kamu mungkin. Ya kan?

Tapi memang kita perlu mengakui bahwa kehidupan manusia pada dasarnya penuh dengan ketidakpastian dan kompleksitas. Ada salah satu konsep filsafat yang kita kenal dengan nama “absurditas”. Yang menggambarkan paradoks hidup di mana manusia terus mencari arti dan tujuan, namun seringkali terjebak dalam dunia yang tidak berarti secara inheren. Dalam proses mencari tujuannya, ada setidaknya dua pertanyaan yang mencerminkan kerumitan hakiki dari keberadaan manusia,

“Siapa aku sebenarnya?” atau “Apa tujuan hidupku?”

Melihat keluhan para adolescence ini, yang selalu dihajar dengan pemenuhan ekspektasi, dan tak jarang mereka merasa akan hidupnya yang nirmakna, ada perspektif lain yang mungkin, membuatnya lebih bermakna, di mana proses “menemukan” dan “mencari” jawaban, meskipun tidak selalu mudah, adalah suatu bentuk pembaruan diri. Bertanya merupakan tanda kesadaran dan refleksi yang vital dalam proses menuju pemahaman yang lebih dalam. Remaja, dengan sejuta pertanyaannya, menunjukkan keberanian mereka untuk berbicara dengan hati mereka sendiri dan menantang status quo loh. He he he.

Selain itu juga, penting bagi remaja untuk merangkul ketidakpastian. Mereka harus menyadari bahwa kebingungan dan tekanan yang mereka rasakan adalah bagian alami dari kondisi manusia. Daripada mencari jawaban pasti, baiknya mereka belajar untuk merangkul ketidakpastian dan menjadikannya sebagai sumber pertumbuhan dan pemenuhan diri. Seringkali dalam prosesnya, mereka tidak dapat menemukan jawaban yang dicari, karena memang setiap individu memiliki perjalanan unik dan kompleks. Kita juga harus belajar bahwa pemahaman dan pengetahuan dibentuk (didapat) melalui interaksi aktif dengan dunia sekitar.

Sebagai orang yang akan “naik level”, remaja harus memahami bahwa dengan eksplorasi, pengalaman, dan refleksi, mereka akan memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri dan dunia yang ruwet ini. Jadi, jangan terlalu terpaku pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban eksak. Nikmati prosesmu dengan santai, selalu bertanya, dan terbuka dengan hal-hal baru. Jadi, teruslah mencari, jadilah penjelajah dalam setiap pertanyaan-pertanyaanmu, dan dengan waktu, kamu akan menemukan jawaban yang sesuai dengan dirimu. 

Komentar